William James, sering dianggap sebagai Bapak Psikologi Amerika, memegang posisi filosofisnya yang tegas menentang determinisme mekanistik yang populer pada masanya. Determinisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa semua peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia, telah sepenuhnya ditentukan oleh sebab-sebab yang ada sebelumnya. Bagi James, pandangan ini menumpulkan vitalitas dan makna pengalaman manusia, terutama yang berkaitan dengan moralitas dan tanggung jawab pribadi.
Dalam posisi filosofisnya, James melihat determinisme sebagai doktrin yang suram (“a quagmire of depression”) karena menghilangkan kemungkinan kebaruan atau pilihan sejati. Jika segala sesuatu telah ditentukan, maka penyesalan, harapan, dan perjuangan moral menjadi ilusi belaka. James bersikeras bahwa pengalaman subjektif kehendak bebas yang kita rasakan adalah bukti yang cukup untuk diakui dalam psikologi dan filsafat.
James berargumen bahwa menerima kehendak bebas bukanlah hanya masalah psikologis, tetapi juga kebutuhan etis dan praktis. Dalam esai terkenalnya, “The Dilemma of Determinism,” James menyajikan dilema moral: apakah lebih baik hidup dalam alam semesta di mana kejahatan dan kesalahan adalah keniscayaan yang telah ditentukan (determinisme), atau alam semesta di mana kebaikan dan kejahatan adalah hasil dari pilihan nyata (indeterminisme)?
Bagi William James, posisi filosofisnya adalah pragmatisme. Kebenaran suatu ide harus dievaluasi berdasarkan konsekuensi praktisnya. Menerima kehendak bebas memiliki nilai praktis yang luar biasa: ia memotivasi kita untuk bertindak, berusaha menjadi lebih baik, dan memegang tanggung jawab. Jika kita yakin pilihan kita penting, kita akan berusaha membuat pilihan yang baik.
James mengkritik determinisme ilmiah Wundt dan ilmuwan lain yang ingin menjadikan psikologi sepenuhnya mekanistik. Dalam pandangan James, fokus eksklusif pada sebab-akibat fisik mengabaikan peran niat, tujuan, dan kehendak bebas dalam membentuk perilaku. Baginya, pikiran adalah agen aktif yang memilih di antara kemungkinan-kemungkinan, bukan sekadar penerima rangsangan pasif.
Inti dari posisi filosofisnya adalah pengakuan terhadap pluralitas dan ketidakpastian realitas. James berpendapat bahwa alam semesta mungkin bersifat indeterministik pada tingkat tertentu, yang berarti masa depan belum sepenuhnya tertutup. Kesenjangan ini memungkinkan ruang bagi campur tangan sadar dan pilihan individu untuk secara nyata mengubah arah peristiwa di dunia.
Kritik William James terhadap determinisme sangat penting karena ia mempertahankan dimensi moral dan eksistensial dalam psikologi yang tengah berkembang. James memperingatkan agar psikologi tidak menjadi sekadar reduksi mekanistik manusia. Ia menegaskan bahwa pengalaman subjektif kehendak bebas adalah fakta psikologis yang harus dihormati oleh teori ilmiah mana pun.