Kisah perjuangan pahlawan wanita asal Aceh, Cut Nyak Dhien, berakhir dengan penuh haru di tanah Pasundan, tepatnya di Sumedang. Setelah ditangkap oleh Belanda, beliau diasingkan jauh dari tanah kelahirannya untuk memutus pengaruh perlawanannya. Di tempat pengasingan inilah, sosok pejuang tangguh tersebut kemudian lebih dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Ibu Perbu.
Meskipun dalam kondisi fisik yang mulai renta dan penglihatan yang memudar, semangat dakwahnya tidak pernah padam sedikit pun. Beliau menghabiskan hari-harinya dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada penduduk di sekitar Masjid Agung Sumedang dengan penuh kesabaran. Karena kedalaman ilmu agama dan keluhuran budinya, masyarakat memberikan julukan hormat kepada beliau, yakni Ibu Perbu.
Selama masa pengasingan, identitas asli beliau sebagai panglima perang Aceh sebenarnya sangat dirahasiakan oleh pihak pemerintah kolonial Belanda. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya simpati atau gerakan perlawanan baru dari rakyat Sumedang yang mencintainya. Namun, kharisma yang terpancar membuat warga tetap memuliakan sosok Ibu Perbu sebagai guru spiritual.
Masyarakat Sumedang kala itu sangat mengagumi kefasihan beliau dalam melantunkan ayat suci meskipun beliau bukan berasal dari suku Sunda. Hubungan emosional yang erat terjalin antara pengungsi politik ini dengan keluarga bupati yang merawatnya dengan sangat baik. Panggilan Ibu Perbu pun menjadi bukti nyata adanya asimilasi budaya dan penghormatan tanpa batas.
Rumah tempat beliau tinggal kini telah menjadi situs sejarah yang sering dikunjungi oleh peziarah dari berbagai penjuru daerah Indonesia. Di sana, pengunjung dapat merasakan suasana kesederhanaan hidup sang pahlawan di sisa masa hayatnya yang jauh dari kemewahan. Kenangan tentang Ibu Perbu tetap hidup dalam sanubari masyarakat sebagai simbol keteguhan iman yang luar biasa.
Cut Nyak Dhien wafat pada tanggal 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, kompleks pemakaman bangsawan Sumedang. Makamnya baru teridentifikasi secara pasti pada tahun 1959 berkat penelitian intensif mengenai sejarah perjuangan rakyat Aceh. Hingga kini, peziarah yang datang selalu mendoakan sosok Ibu Perbu yang telah menyatukan semangat Nusantara.
Pemerintah daerah terus berupaya menjaga keaslian situs sejarah ini sebagai bagian dari edukasi bagi generasi muda tentang arti pengorbanan. Nilai-nilai perjuangan beliau menjadi inspirasi bahwa pengabdian kepada bangsa dan agama tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Nama Ibu Perbu akan selalu tertulis dengan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan kemerdekaan kita.