Kondisi ekonomi yang sulit, seperti kemiskinan dan pengangguran, dapat meningkatkan tingkat stres dalam keluarga. Stres ini bisa memicu frustrasi dan berakhir pada kekerasan, baik fisik maupun emosional, terhadap anak. Faktor ekonomi seringkali menjadi pemicu utama di balik layar kekerasan anak. Ketika beban finansial menumpuk, orang tua atau pengasuh bisa kewalahan, dan sayangnya, anak-anak sering menjadi sasaran pelampiasan yang tidak adil.
Dampak pandemi COVID-19 secara signifikan memperparah faktor ekonomi ini. Banyak keluarga kehilangan pekerjaan atau sumber pendapatan, menambah tekanan finansial yang sudah ada. Pembatasan mobilitas dan isolasi sosial selama pandemi semakin memperburuk situasi, membatasi akses keluarga ke dukungan sosial dan ekonomi yang biasanya membantu mereka mengatasi kesulitan hidup, sehingga akan memperburuk kondisi keluarga.
Kemiskinan ekstrem dan pengangguran jangka panjang menciptakan lingkungan penuh tekanan di rumah. Orang tua yang stres karena tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga, seperti makanan atau tempat tinggal, lebih rentan mengalami burnout dan depresi. Frustrasi ini, tanpa mekanisme koping yang sehat, dapat bermanifestasi sebagai kekerasan terhadap anak-anak, baik secara verbal maupun fisik, yang sangat merugikan.
Masyarakat atau individu yang hidup dalam kondisi faktor ekonomi yang sulit seringkali terjebak dalam lingkaran setan. Kurangnya akses permodalan untuk memulai usaha atau mencari pekerjaan yang lebih baik membuat mereka semakin terpuruk. Ini memperpanjang siklus stres dan meningkatkan risiko kekerasan anak, yang pada akhirnya akan menghambat tumbuh kembang anak-anak yang tidak berdosa.
Peningkatan pelaporan kasus kekerasan anak mungkin tidak selalu mencerminkan peningkatan kasus aktual, tetapi lebih pada kesadaran dan keberanian masyarakat untuk melapor. Namun, di tengah tekanan faktor ekonomi ini, bisa jadi ada peningkatan kasus riil yang tidak terlaporkan. Ini karena korban atau saksi juga terperangkap dalam lingkungan yang sama, dan takut akan dampak yang akan terjadi jika mereka melaporkan.
Penanganan masalah kekerasan anak yang berakar dari faktor ekonomi membutuhkan pendekatan holistik. Tidak cukup hanya menangani kekerasan itu sendiri, tetapi juga perlu mengatasi akar masalahnya. Program bantuan ekonomi, pelatihan keterampilan, dan dukungan psikososial bagi keluarga sangat penting untuk mengurangi tingkat stres dan mencegah kekerasan. Ini adalah langkah preventif yang krusial.
Pemerintah perlu memperkuat program kesejahteraan sosial dan akses permodalan bagi keluarga rentan. Selain itu, edukasi parenting positif di tengah krisis ekonomi juga harus digalakkan. Dengan demikian, diharapkan faktor ekonomi tidak lagi menjadi pemicu kekerasan, dan anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung, serta dapat tumbuh dengan baik dan sehat.